Selasa, 19 Juni 2012

Theory of Personality

Tahap Perkembangan Psikososial Kepribadian Erik Erikson




1.    Masa Bayi

Masa bayi adalah masa pembentukan, dimana bayi “menerima” bukan hanya melalui mulut, namun juga melalui organ indra yang lain. Sebagaimana mereka menerima makanan dan    informasi sensori, bayi belajar untuk memercayai ataupu tidak memercayai dunia luar, keadaan yang memberikan harapan tidak nyata.


Aspek psikoseksual : Gaya Sensori Oral
Tahapan ini ditandai oleh dua gaya pembentukan – memperoleh dan menerima apa yang diberikan.Bayi dapat memperoleh walaupun tanpa keberadaan orang lain. Mereka dapat memperoleh udara melalui paru-paru. Akan tetapi, gaya pembentukan yang kedua menyiratkan konteks sosisal. Untuk membuat orang lain memberi, mereka harus belajar untuk memercayai atau tidak memercayai orang lain.Hal ini membangun krisis psikososial dasar yaitu Trust vs Mistrust.

Krisis psikososial : Percaya vs Tidak Percaya

Setahun pertama kehidupan, bayi menghabiskan banyak waktunya dengan makan, mengeluarkan kotoran, dan tidur. Hubungan antara bayi dan dunianya semata-mata bukan biologis. Hubungan sosial yang mendominasi. Interaksi antara bayi dan ibunya menentukan apakah bayi memandang dunianya dengan sikap percaya atau tidak percaya (trust vs mistrust).
Jika ibunya merespon bayi dan memberikan kasih sayang, cinta, keamanan , maka kemudian bayi akan mengembangkan rasa percaya. Di lain hal, jika ibunya menolak, tidak perhatian, atau tidak konsisten dalam menjaga bayinya, maka bayi akan mengembangkan sebuah sikap ketidakpercayaan dan akan menjadi kecuriga, ketakutan, dan kecemasan.

Virtue : Harapan

Harapan  muncul dari konflik antara rasa percaya dan rasa tidak percaya. Jika bayi mengalami pengalaman yang tidak enak, bayi belajar untuk berharap bahwa gangguan mereka di masa depan akan diakhiri oleh hasil yang memuaskan.
Apabila bayi tidak mengembangkan harapan yang cukup pada masa ini, maka mereka akan menampilkan lawan dari harapan –penarikan diri. Dengan hanya sedikit harapan, mereka akan menarik diri dari dunia luar dan memulai perjalanan menuju gangguan psikologis yang serius.

2.    Masa Kanak – kanak Awal

Freud berpendapat bahwa anus sebagai zona yang paling memberikan kepuasan seksual bila tersentuh (erogeneous) selama periode ini dan selama fase anak-sadsitis awal, anak-anak mendapat kesenangan dengan menghancurkan atau menghilangkan obyek dan nantinya mereka mendapat kesenangan dengan buang air besar.

Erickson berpandangan lebih luas. Baginya, anak-anak mendapat kesenangan bukan hanya karena menguasai otot sirkular yang dapat  berkotraksi, tetapi juga menguasai fungsi tubuh lainnya, seperti buang air kecil, jalan, memegan, dan seterusnya.
 Aspek psikoseksual : Otot Uretral-anal

Pada masa ini, anak belajar untuk mengendalikan tubuh mereka, khusunya berkaitan dengan kebersihan dan pergerakan. Masa kanak-kanak awal tidak hanya belajar toilet training tetapi juga belajar berjalan, berpegangan dengan mainan, dan lain-lain.Mereka senang menahan feses mereka , mereka jugan senang mengumpulkan barang dan tiba-tiba menghancurkannya.
Kanak-kanak awal adalah masanya kontradiksi , masa pemberontakan yang bersikeras dan kepatuhan yang lembut, masa pengungkapan diri yang impulsif dan penyimpangan yang kompulsif.

Krisis Psikososial : Otonomi vs Rasa Malu dan Ragu

Selama 2 tahun atau3 tahun kehidupan , anak-anak akan berkembang dengan cepat dari segi kemampuan fisik dan kemampuan mental dan dapat melakukan banyak hal untuk dirinya sendiri. Permulaannya adalah berkomunikasi lebih efektif, berjalan, memanjat, menarik, mendorong, memengang objek atau melepaskannya. Anak-anak merasa bangga dengan perkembangan kemampuan ini dan akan melakukan sebanyak mungkin untuk dirinya.

Poin penting dalam tahapan ini adalah anak-anak dapat menggerakkan badan dan melakukan otonomi. Perselisihan besar terjadi antara orang tua dan anak pada tahap yang melibatkan toilet training. Seorang anak akan diajarkan untuk menahan dan pergi ke tempat yang tepat . Orang tua akan mengizinkan anak memulai toilet training dengan caranya sendiri, atau orang tua merasa terganggu dan merebut kebebasan anak dengan memaksa training tersebut dan menunjukkan ketidaksabaran dan kemarahan ketika anak tidak melakukannya dengan benar.

Ketika orang tua merintangi dan menggagalkan usaha anak untuk melakukan otonomi , anak akan mengembangkan perasaan ragu dan malu.

Virtue : Keinginan

Kekuatan dasar akan keinginan dan kemauan berkemabang dari resolusi krisis otonomi vs rasa malu dan ragu. Kekuatan keinginan yang matang dan ukuran signifikan kehendak bebas tertahan hingga tahapan perkembangan selanjutnya, namun mereka berasal dari keinginan awal yang timbul pada masa kanak-kanak awal.
Anak-anak hanya akan berkembang jika lingkungan mereka membiarkan mereka memilki pengungkapan diri dalam kendali otot sphincter dan otot lain-lain. Ketika pengalaman mereka mengakibatkan rasa malu dan ragu yang terlalu besar, anak-anak tidak mampu mengembangkan kekuatan dasar ini.

3.    Usia Bermain


Aspek psikoseksual : Lokomotir-Genital

Erikson melihat situasi Oedipal sebagai prototipe “kekuatan seumur hidup akan keriangan manusia”. Dengan kata lain, Oedipus conplex adalah drama yang dimainkan dalam imajinasi anak-anak mencakup pengertian yang dimulai meningkat akan konsep dasar, seperti reprodusi, pertumbuhan, masa depan, dan kematian.
Ketertarikan anak-anak usia bermain akan aktivitas genital diiringi dengan meningkatnya sarana daya gerak mereka. Mereka sekarang dengan mudahnya bergerak, berlari, melompat dan permainan mereka menunjukkan inisiatif serta imajinatif.

Krisis psikososial : Inisiatif Vs Rasa Bersalah

Tahapan ketiga dari perkembangan psikososial, tahapan locomotor-genotal, muncul pada umur antara 3-5 thn dan analogi dengan pada tahapan phallic dari sistemnya Freud. Anak-anak berkeinginan untuk mengambil inisiatif di segala aktifitas. Insiatif dalam bentuk fantasi juga tumbuh dan ini dimanifestasikan dalam keinginan anak untuk mempunyai orang tua yang berlawanan jenis kelamin dan merasa rival terhadap orang tua dengan jenis kelamin yang sama. Jika orang tua menghukum anak maka anak akan mengembangkan perasaan bersalah . Apabila rasa bersalah adalah elemen dominan, anak bisa menjadi bermoral dengan terpaksa atau terlalu terkekang.

Virtue : Tujuan

Anak-anak sekarang bermain dengan tujuan, bersaing dalam permainan dengan tujuan menang atau mencapai puncak. Mereka menentukan sasaran dan mengejar sasaran itu dengan tujuan. Usia bermain juga merupakan tahpan dimana anak-anak mengembangkan hati nurani dan mulai meletakkan benar dan salah pada tingkah laku mereka. Hati nurani di masa muda ini menjadi landasan akan moralitas.



4.    Usia Sekolah 
Aspek psikoseksual : Latensi

Latensi seksual penting karena memungkinkan anak-anak mengalihkan energi mereka untuk mempelajari teknologi kultur mereka dan startegi akan interksi sosial mereka.

Krisis Psikososial : Industri vs Rasa Rendah Diri

Pada tahapan ini, anak mulai memasuki sekolah dan membuka pengaruh sosial baru. Krisis psikososial pada tahapan ini adalah industri vs rasa rendah diri. Industri, kualitas yang berarti kesungguhan, kemauan untuk tetap sibuk akan sesuatu, dan untuk menyelesaikan sebuah pekerjaan. Anak-anak usia sekolah belajar untuk bekerja dan bermain pada aktivitas yang diarahkan agar memperoleh kemampuan bekerja dan mempelajari aturan dalam bekerja sama.

Sebagaimana anak belajar untuk melakukan sesuatu dengan baik, mereka mengembangkan rasa industri. Akan tetapi, jika pekerjaan mereka tidak cukup baik untuk mencapai sasaran, maka mereka merasa rendah diri.

Virtue : Kompetensi

Kekuatan dasar kompetensi adalah rasa percaya diri untuk menggunakan kemampuan fisik dan kognitif dalam menyelesaikan masalah yang mengiringi usia sekolah. Kompetensi diberikan landasan untuk partisipasi kooperatif dalam kehidupan dewasa yang produktif.

5.    Adolensen

Pada tahap adolensen ini, krisis antara identitas dengan kekacauan identitas mencapai puncaknya. Disini juga muncul kesetiaan (fidelity) sebagai virtue dari adolensen. Mereka mencoba-coba peran baru sambil terus berusaha menemukan identitas ego yang mantap.

Aspek Psikoseksual : Pubertas
Pubertas (puberty) adalah tahap kemasakan seksual. Menurut Erikson penting karena pubertas memacu harapan peran dewasa pada masa yang akan datang.

Krisis Psikososial : Identitas vs Kekacauan Identitas

Pencarian identitas ego mencapai puncaknya. Menurut Erikson identitas muncul 2 sumber; 1.) penegasan/penghapusan identitas masa kanak-kanak , dan 2.) sejarah yang berkaitan dengan kesediaan menerima standar tertentu.

Identitas bisa positif dan negatif. Yang positif adalah keputusan mengenai akan menjadi apa dan apa yang mereka yakini. Kebalikannya, identitas negatif adalah apa yang mereka tidak ingin menjadi seperti itu dan apa yang mereka tolak.

Kekacauan identitas adalah sindrom masalah-masalah yang bisa dikatakan terjadi karena identitas negatif yang meliputi; terbaginya gambaran diri, ketidakmampuan membina persahabatan yang akbrab,dll. Psychososial moratorium = waktu tertundanya peran dewasa, karena remaja itu pindah dari satu keyakinan ke keyakinan yang lain.

Virtue : Kesetiaan

Kekuatan dasar yang muncul dari krisis identitas pada tahap adolensen adalah kesetiaan (fidelity). Sisi patologis dari kesetiaan adalah penolakan (repudiation), menjadi bentuk yang malu-malu (diffedence) atau penyimpangan (deviance). Difiden adalah keadaan ekstrim tidak percaya diri, sementara devian adalah memberontak kepada otoritas secara terbuka.

6.    Dewasa Awal

Tugas pada tahap dewasa awal hanya sesudah orang mengembangkan perasaan yang mantap siapa dan apa yang diinginkannya maka mereka dapat mengembangkan tingkat kebaikan cinta (love). Tahap ini ditandai dengan perolehan keintiman (intimacy) pada awal periode dan perkembangan berketurunan (generativity) pada akhir periode.

Aspek Psikoseksual : Perkelaminan
Disebut perkelaminan (genitality). Aktivitas seksual selama tahap adolensen adalah ekspresi pencarian identitas yang biasanya dipuaskan sendiri. Ditandai dengan saling percaya dan berbagi kepuasan seksual secara permanen dengan orang yang dicintai.

Krisis Psikososial : Keakraban vs Isolasi
Keakraban (intimacy) adalah kemampuan untuk menyatukan identitas tanpa ketakutan kehilangan identitas diri itu. Karena intimasi hanya dapat dilakukan sesudah orang membentuk ego yang stabil. Intimasi yang masak adalah kemampuan dan kemauan untuk saling percaya. Sementara isolasi adalah ketidakmampuan untuk bekerja sama dengan orang lain melalui berbagai intimasi sebenarnya. Intimasi yang berlebihan bisa mengjilangkan identitas ego. Orang tetap membutuhkan isolasi dalam kadar yang cukup sebelum dapat mencapai kemasakan cinta.

Virtue : Cinta
Cinta adalah kesetiaan yang masak sebagai dampak dari perbedaan dasar antara pria dan wanita. Kebalikan dari cinta adalah kesendirian (exclusivity). Sedikit ekslusif dibutuhkan dalam intumasi, yakni bahwa orang harus bisa menolak orang tertentu, untuk mengembangkan perasaan identitas diri yang kuat. Kesendirian menjadi patologis kalau kekuatannya sampai menghalangi kemampuan kerja sama.





7.    Dewasa


Tahap ini menjadi tahap yang paling panjang, sekitar 30 tahun.

Aspek Psikoseksual : Prokreativitas

Menurut Erikson, manusia memiliki insting untuk mempertahankan jenisnya yang disebut prokreativita (procreativity).

Krisis Psikososial : Generativita vs Stagnasi

Kualita sintonik tahap dewasa adalah generativita, yaitu penurunan kehidupan baru, serta produk dan ide baru. Antitesis dari generativa adalah stagnasi. Siklus generativa dari produktivitas bakal lumpuh kalau orang terlalu mementingkan diri sendiri, dan perkembangan menjadi mandeg, stagnasi. Sesekali dia perlu berhenti, diam, menyerap hasil kreativitas orang lain.

Virtue : Keperdulian
Keperdulian (care) adalah perluasan suatu komitmen untuk merawat orang lain. Care bukan suatu tugas atau kewajiban, tetapi keinginan yang muncul serta alami dari konflik antara generativita dengan stagnasi. Lawan dari keperdulian adalah penolakan (rejectivity), yang diwujudkan dalam bentuk mementingkan diri sendiri, atau pseudospeciation, yakni keyakinan bahwa orang atau kelompok lain adalah jenis manusia yang lebih inferior dibanding diri/kelompoknya.




8.    Usia Tua

Aspek Psikoseksual : Generalisasi Sensualitas
Tahap terakhir dati psikoseksual adalah generalisasi sensualitas (Generalized Sensuality): memperoleh kenikmatan dari berbagai sensasi fisik,penglihatan, pendengaran, kecapan, bau, pelukan dan bisa juga stimulasi genital.

Krisis Psikososial: Integritas versus Putus Asa
Banyak terjadi pada krisis psikososial terakhir ini, kualita distonik “putus asa” yang menang. Integritas adalah perasaan menyatu dan utuh, kemampuan untuk menyatukan perasaan keakuan, dan mengurangi kekuatan fisik dan intelektual. Putus asa yang diekspresikan dalam bentuk kebencian, depresi, menghina orang lain, atau tidak mau menerima kepastian batas kehidupan. Putus asa ini menjadi lawan dari kualitas distonik tahap bayi, yakni harapan. Dapat dikatakan konflik antara hape versus despair.

Virtue: Kebijaksanaan (wisdom)
Orang dengan kebijaksanaan yang matang, tetap mempertahankan integritasnya ketika kemampuan fisik dan mentalnya menurun. Antitesis dari kebijaksanaan adalah penghinaan (disdain). Penghinaan merupakan kelanjutan dari penolakan, sumber patologi dari fase dewasa

Sabtu, 16 Juni 2012

C H A K R A

Apa itu Chakra ??



Pada tubuh manusia terdapat pusat-pusat energi yang disebut chakra. Cakra berasal dari bahasa sansekerta yang berarti roda. Disebut demikian karena bila dilihat dari depan bagaikan sebuah roda yang berputar. Gambaran roda ini timbul karena cakra sebenarnya terdiri atas beberapa lembaran daun (yang bervariasi jumlahnya pada tiap cakra) yang berputar.

Cakra digambarkan sebagai pusat energi di sepanjang tulang belakang terletak di cabang-cabang utama dari sistem saraf manusia, dimulai dari dasar kolom tulang belakang dan bergerak ke atas ke bagian atas tengkorak, melalui mana, orang percaya menegaskan, melewati 3 saluran energi utama, Sushumna , Ida dan pingala. Cakra dianggap menjadi titik atau perhubungan dari biofisik energi atau prana dari tubuh manusia . 


1. Cakra Dasar (Muladara)

Cakra dasar berhubungan dengan badan fisik terletak di dasar tulang punggung yaitu di ujung tulang ekor. Cakra dasar diasosiasikan dengan warna merah muda & mempunyai 4 lembar daun. Cakra dasar merupakan pusat energi dari tubuh fisik, kehidupan materi & keinginan untuk hidup. Cakra dasar yang aktif maka seseorang akan cenderung untuk hidup dengan penuh semangat & motivasi & sebaliknya cakra dasar yang kecil, kotor & terhambat maka akan hidup bermalas-malasan tanpa semangat bahkan memiliki kecenderungan untuk mudah putus asa bahkan bunuh diri
Warna merah :
Merupakan dasar atau akar dari chakra yang membuat kita tetap terhubung ke alam semesta dan yang menghubungkan kita pada alam semesta. Chakra ini berada di bagian bawah tulang belakang.


 

2. Cakra Splenic atau Sex (swadistan)

Cakra seks terdapat pada tulang pelvis. Cakra sex diasosiasikan dengan wana oranye & memiliki 6 lembar daun. Cakra seks berhubungan dengan penciptaan atau reproduksi & mempengaruhi aktivitas seksual seseorang. Cakra seks berkaitan erat dengan cakra tenggorokan yang berfungsi dalam penciptaan kreativitas atau ide. Seseorang dengan Cakra seks yang bersih dan aktif akan memiliki pikiran yang lebih positif serta percaya diri. Sebaliknya seseorang akan menjadi tidak perduli, kasar, berpikir negative (kurang kreatif), termasuk seks menyimpang jika cakra seksnya kotor & terhambat.
Warna Oranye : Dikenal sebagai chakra sakral, berada di belakang area selangkangan. Berdasarkan lokasinya, warna ini terkait dengan organ seksual dan sistem reproduksi.



3. Cakra Solar Pleksus (Manipura)

 
Pusat energy ketiga berhubungan dengan tubuh fisik terletak di ulu hati & amat penting dalam mempertahankan vitalitas seseorang. Diasosiakan dengan warna kuning & memiliki 10 lembar daun. Cakra pusar berkaitan erat dengan sifat-sifat yang membawa kecenderungan seperti iri hati, rasa malu, tidak puas, murung, benci & takut (kekurangan rasa aman). Seseorang dengan cakra pusar yang berkembang & bersih maka akan dapat mengatasi hal-hal seperti tersebut di atas & mengubahnya menjadi suatu yang positif seperti rasa aman, puas, gembira, nyaman & percaya diri.
Warna Kuning : Mewakili cakra plexus tenaga surya. Berada di perut yang berhubungan dengan permasalahan perut dan organ-organ terkait. Warna ini berkaitan dengan vitalitas dan dapat memberdayakan seseorang untuk menemukan kekuatan batinnya.


 
4. Cakra Jantung (Anahata)

 Pusat energy keempat berhubungan dengan tubuh fisik terletak di dada. Diasosiasikan dengan warna hijau dengan 12 lembar daun. Cakra jantung adalah cakra yang amat penting dalam spiritual karena dihubungkan sebagai lambing cinta kasih & penyembuhan. Secara fisik cakra jantung mengatur jantung & kelenjar thymus. Cakra jantung merupakan pusat dari seluruh perasaan halus seperti kasih sayang & cinta kasih. Seseorang dengan cakra jantung yang kecil, kotor atau terhambat akan memiliki kecenderungan egois, sombong, fanatic, tamak/rakus, munafik, & gelisah. Sedangkan cakra jantung yang berkembang dengan baik menyebabkan seseorang penuh dengan rasa cinta kasih & kasih sayang serta dapat berempati terhadap sesama.
Warna Hijau : Mewakili cakra jantung. Terletak di daerah dada yang terkait dengan jantung, paru-paru dan sistem peredaran darah. Chakra ini berhubungan dengan cinta dan masalah-masalah lain yang terkait.



5. Cakra Tenggorokan (Visudhi)


Pusat energy ke lima terletak tenggorokan & diasosiasikan dengan warna biru muda & memiliki 16 lembar daun. Secara fisik cakra ini memberikan energy kepada kelenjar thyroid & parathyroid. Cakra ini merupakan pusat penciptaan yang lebih tinggi (kreativitas) & hubungan antar manusia. Seseorang dengan cakra tenggorokan yang berkembang akan memiliki pengertian yang mendalam mengenai hubungan antar sesame sehingga mempunyai hubungan yang baik dengan sesamanya. Kemampuan untuk berekspresi secara lisan juga dipengaruhi oleh cakra ini. Cakra jantung yang yang bersih & terhubung dengan cakra tenggorokan yang bersih pula akan mengakibatkan seseorang akan dapat mengekspresikan seluruh isi hati dengan baik. Sifat-sifat yang berkenaan dengan cakra tenggorokan yang berkembang dengan baik antara lain adalah kepasrahan, keberhasilan, kelimpahan & kesejahteraan serta pengembangan pengetahuan duniawi
Warna Biru : Berada di daerah tenggorokan dan berhubungan dengan leher, tenggorokan, lengan dan tangan. Warna ini berhubungan dengan berbicara dan mendengar, yang digunakan untuk komunikasi spiritual.



6. Cakra mata ke tiga (Ajna)

Pusat energy ke enam berhubungan dengan tubuh fisik yang terletak di antara ke dua mata. Diasosiasikan dengan warna biru tua atau nila. Cakra ini memberikan energy ke kedua mata, hidung & kelenjar pituitary. Disebut cakra mata ketiga karena cakra yang berkembang aktif & bersih dapat memberikan pewaskitaan (clairvoyance) atau kekuatan psikis lainnya. Selain pewaskitaan, cakra ini merupakan titik pemusatan & pengatur dari cakra-cakra di bawahnya. Maka dari itu cakra ini sering disebut pula berkaitan erat dengan pengetahuan duniawi & pengetahuan surgawi (spiritual). Seringkali manusia yang telah mencapai taraf kewaskitaan terpesona oleh sensasi tersebut & lupa akan tujuan utamanya & lama terhambat pada kesadaran di tahap ini.
Warna Indigo : Untuk orang yang ingin memiliki keadaan pikiran yang seimbang, chakra indigo atau yang juga dikenal sebagai chakra mata ketiga ini harus dibuka atau ditutup. Chakra ini terkait dengan mata dan digunakan untuk memasuki pikiran bawah sadar.


7. Cakra Mahkota (Sahasrara)

Pusat energy ke tujuh berhubungan dengan tubuh fisik terletak di ubun-ubun. Cakra ini adalah pusat masuknya energy Illahi ke seluruh lapisan tubuh & kesadaran. Seseorang yang cakra mahkotanya berkembang secara sempurna akan banyak mengetahui rahasia alam. Menjaga agar cakra ini selalu bersih amatlah penting agar energy spiritual dapat diterima secara terus menerus oleh seluruh tubuh. Cakra mahkota yang terbuka dengan lebar maka seseorang dapat melakukan perjalanan astral dengan lebih mudah.
Warna Violet : Dikenal sebagai chakra mahkota. Berada di bagian atas kepala dan berhubungan dengan otak dan sistem saraf. Chakra ini dapat membuat seseorang dapat memiliki pemahaman yang lebih dalam dan lebih spiritual tentang segala hal.


Perubahan warna chakra dipengaruhi oleh suasana hati dan apa saja yang terjadi dalam diri Anda. Hal ini juga dapat diubah oleh energi yang dimiliki oleh orang lain yang berada di dalam ruangan yang sama. Warna chakra yang keluar merata secara bersamaan menunjukkan adanya keseimbangan chakra. Jika hal ini terjadi, Anda juga akan mengalami keadaan jiwa dan batin yang seimbang.

What is your Archetype ??

12 Jenis Karakter Archetype Figure :




1.The Innocent
Individu dengan archetype innocent adalah individu yang melihat dunia sebagai tempat yang aman dan nyaman untuk hidup, mereka percaya bahwa dunia penuh dengan kebaikan dan keadilan. Oleh karena itu mereka sangat mudah percaya pada orang lain, karena merasa bahwa semua orang adalah baik.. Tipe kepemimpinan innocent adalah mereka sangat baik dalam memberikan inspirasi pada orang lain, dapat mengidentifikasi kesempatan dengan baik, mempertahankan keriangan dan semangat dalam memimpin.

Kebutuhan dasar: adalah untuk tetap mempertahankan harapan, walaupun dalam keadaan sesulit apapun. Innocent juga mempunyai kebutuhan untuk selalu dilihat baik dan positif oleh sekitar, sehingga mereka biasanya menghindari hal-hal yang dapat membuat mereka terlihat buruk, atau merugikan orang lain.


2.The Orphan
Individu dengan archetype orphan adalah individu yang akrab dengan masalah dan tragedi, sehingga mereka sangat terbiasa dan mengetahui dengan pasti bagaimana bertahan dari masalah, dan kekecewaan dalam hidup. Tipe kepemimpinan orphan adalah realistis akan apa saja yang dapat diselesaikan, tidak akan menjanjikan sesuatu yang tidak mampu diselesaikan, selain itu mereka baik dalam mengidentifikasi masalah, dan menyampaikan masalah yang sedang terjadi. 

Kebutuhan dasar: adalah untuk mengantisipasi kesulitan sehingga dapat membuat masalah atau kesulitan itu berlalu dari hidup, dan juga kebutuhan untuk dilihat sebagai individu yang realistis, kuat dalam bertahan menghadapi masalah apapun, sehingga biasanya orphan sangat menghindari kesan naïf dalam diri dan kesan rentan akan dimanfaatkan dan ditipu.


3.The Warrior
Individu dengan archetype warrior adalah individu yang berusaha untuk menunjukkan apa artinya dan bagaimana jika seseorang mempunyai keberanian sejati, dan kemauan. Biasanya orang-orang dengan archetype warrior mempunyai atau berkeinginan untuk mempunyai kemampuan untuk membela idealisme yang dianut, untuk membela diri sendiri, sesama, dan melakukan apapun untuk sukses, terlepas dari perasaan takut dan lelah yang harus dihadapi.Tipe kepemimpinan warrior adalah selalu memastikan adanya tujuan akhir atau gol dan bagaimana implementasinya dalam pencapaian gol tesebut, memotivasi tim untuk memberikan yang terbaik.

Kebutuhan dasar:  berkompetisi, orientasi tujuan atau berjuang dan berkemauan mencapai tujuan dengan mengembangkan strategi, menghindari kekalahan, atau menjadi pengecut, berjuang memberikan yang terbaik dari diri. Warrior selalu ingin dilihat sebagai seseorang yang kuat, kompeten, berkemauan dan terkontrol, serta mereka menghindari untuk terlihat lemah, dan rapuh.


4.The Caregiver
Individu dengan archetype caregiver adalah individu penuh dengan cinta dan kepedulian dalam membantu sesamanya, individu dengan archetype ini melihat sesamanya dengan sisi kebaikan, menyayangi, dan memaafkan. Tipe kepemimpinan caregiver adalah mereka mempunyai kekuatan yang luar biasa dalam menjaga siapapun yang mereka pimpin, mereka mempunyai kemampuan natural untuk memberikan servis terbaik, karena rasa menyayangi dan peduli. 

Kebutuhan dasar: adalah dilihat sebagai seseorang yang royal, peduli, dan baik, menghindari untuk terlihat egois, dan mementingkan diri sendiri. Mengekspresikan rasa sayang, peduli, menolong, memelihara, dan membuat perubahan yang baik bagi sesamanya.


5.The Seeker
Individu dengan archetype seeker adalah individu yang mandiri, berjiwa petualang, dan senantiasa mengetahui bagaimana memenuhi keinginan dirinya, selalu mencari pengalaman baru, menguji batas diri atas apa yang mungkin ditemukan dan dilakukan. Sebagai seorang pemimpin, seeker adalah seorang individu yang sangat mandiri, dan individualis, berjiwa petualang, sehingga bersedia menerima dan mencoba ide-ide baru, juga memberikan orang lain privasi dan otonomi selama itu tidak disalahgunakan dan tetap menunjukkan hasil.

Kebutuhan dasar: adalah mencari sesuatu yang baru, unik, dan eksotis, terus melihat jauh ke depan, menemukan apa yang belum terpuaskan dalam diri, dan menjadikan ketidakpuasan itu sebagai motivasi, dan bekal untuk melanjutkan petualangan mencari hal-hal baru. Kebutuhan untuk menjadi unik, berbeda dan tidak biasa.


6.The Lover
Individu dengan archetype lover adalah individu yang penuh dengan cinta untuk orang lain dalam hidupnya, membalas afeksi sesama dengan cinta yang lebih, dan menikmati kegiatan-kegiatan menyayangi dan berbagi cinta, baik terhadap anak-anak, hewan, keindahan, maupun benda. Tipe kepemimpinan lover adalah karismatik, penuh gairah atas apa yang dipimpinnya, jika lover mencintai pekerjaannya maka akan timbul antusiasme yang besar, sehingga orang yang dipimpinnya akan terpicu untuk bekerja lebih keras dan mendapatkan kepuasan atas pekerjaan tersebut.

Kebutuhan dasar: adalah mengekspresikan cinta, melihat semua hal dengan kacamata cinta, dilihat sebagi individu yang menarik secara fisik dan dalam segala aspek, sehingga dicintai banyak orang.

 
7.The Destroyer
Individu dengan archetype destroyer adalah individu yang mengerti bagaimana mengatasi sebuah kehilangan dengan kerelaan, dan kembali maju melanjutkan hidup. Tipe kepemimpinan destroyer adalah mempunyai kemampuan yang baik dalam reorganisasi sebuah kelompok atau organisasi, mengakhiri program yang tidak menghasilkan, memecat karyawan yang tidak produktif.

Kebutuhan dasar: adalah menyelesaikan masalah dan membiarkan hal tersebut lewat menjadi masa lalu, membuat perubahan dari sebuah masalah yang dihadapi. Individu dengan archetype destroyer biasanya ingin dilihat sebagai seseorang yang kuat, sehingga biarpun sedang mengalami masa sulit, biasanya destroyer tidak akan berbagi dengan orang lain, dan akan menyimpannya sendiri.



8.The Creator
Individu dengan archetype creator adalah individu yang penuh dengan imajinasi dan aspirasi, dan kemampuan diri creator biasanya mendukung individu dengan archetype creator untuk merealisasikan imajinasi, kreatifitas, dan aspirasinya dengan kemudahan.  Kepemimpinan creator adalah individu yang berjiwa pengusaha, inovatif, dan tidak terikat pada norma atau aturan keras dan ekstrim lainnya. 

Kebutuhan dasar: adalah merealisasikan sesuatu yang inovatif, dari kreatifitas dan inspirasi diri, menciptakan sesuatu untuk diri sendiri, maupun orang lain. Terlihat sebagai seseorang yang praktikal, dan dipercaya mempunyai kemampuan untuk membuat sesuatu yang dibutuhkan dunia. Jadi biasanya creator akan menghindari melakukan sesuatu yang tipikal, dan biasa.

9.The Ruler
Individu dengan archetype ruler adalah individu yang akan mengambil alih sesuatu hal jika dilihat sesuatu telah berantakan dan tidak terkontrol, sehingga individu mengambil kontrol atas situasi tersebut. Sebagai pemimpin, ruler sangat baik dalam meletakkan struktur, aturan, dan prosedur pada wilayahnya sehingga lebih teratur dan efisien. 

Kebutuhan dasar: adalah mengambil alih dan kontrol, serta menyelesaikan sebuah masalah atau proyek. Individu ruler ingin dilihat sebagai individu yang dapat memimpin secara natural, dimana pada akhirnya orang-orang akan dengan sukarela menjadi pengikut, menghindari diri supaya terlihat lemah, dan rapuh, dan menghindari melakukan sesuatu yang terlalu tegas atau keras.


10.The Magician
Individu dengan archetype magician adalah individu yang karismatik, dan mempunyai kemampuan natural seakan-akan dapat menyembuhkan dan menenangkan sesuatu yang terpecah belah, menyatukan orang-orang di balik sebuah visi yang sama, dan visi tersebut masih dalam batasan real. Tipe kepemimpinan magician adalah mempunyai kemampuan untuk memberikan energi pada orang lain dengan cara menginspirasikan mereka untuk jujur dan mengetahui apa mimpi dan tujuan terdalam dan sejati yang ada dalam diri, dan bagaimana bekerja sama untuk mengeluarkan mimpi dan tujuan tersebut menjadi nyata.

Kebutuhan dasar: adalah mempunyai visi, dan bekerjasama bagaimana mewujudkan visi tersebut menjadi realitas. Individu Magician selalu ingin dilihat sebagai individu yang berkarisma dan mempunyai visi, namun juga sedikit misterius dan tidak tertebak.



11.The Sage
Individu dengan archetype sage adalah individu yang tidak hanya mempunyai banyak pengetahuan, namun juga bijaksana, individu ini mempunyai rasa keingintahuan dan senang sekali memikirkan sesuatu, berjuang untuk memberikan opini pada suatu hal dengan meminimalisir bias diri atas opini tersebut. Tipe kepemimpinan sage adalah tipe analisa, perencana, evaluasi, dan membuat keputusan terencana yang baik, saat yang lainnya panik, sebagai pemimpin sage tetap dapat bertindak hati-hati, menangkap gambaran besar, berpikir jauh ke depan, dan mengetahui apa yang harus dilakukan.

Kebutuhan dasar: adalah memenuhi keingintahuannya yang besar atas sebuah kebenaran, memberikan opini dan cara pandangnya atas sesuatu. Selain itu sage juga ingin dilihat sebagai individu yang pintar, dan tanggap dalam mempersepsikan sesuatu, sehingga sage menghindari untuk terlihat tidak peduli terhadap sesuatu.

 
12.The Jester
Individu dengan archetype jester adalah individu yang selalu terlihat senang, lucu, dan menyenangkan jika jester ada di sekitar, jester biasanya yang memicu suasana senang terjadi dalam hidup untuk orang-orang sekitar.Tipe kepemimpinan jester adalah baik dalam menyelesaikan kontradiksi, dan masalah dalam sebuah sistem, namun jester tidaklah merasa nyaman menyadari bahwa dirinya adalah pemimpin. 

Kebutuhan dasar: adalah bagaimana menyenangkan hidup dan orang lain, membuat susanan lebih hidup dan penuh dengan humor. Jester ingin dilihat sebagai individu yang menyenangkan, lucu, sehingga individu jester menghindari untuk terlihat membosankan.



Bagi teman-teman  yang mau mengetahui archetype apa yang  dimilki, ada testnya nihh . Testnya ada di www.helloquizzy.com

sumber : http://www.psikomedia.com/article/view/Psikologi-Kepribadian/2095/Jenis-Archetype/

Jumat, 08 Juni 2012

SIMULASI PEDAGOGI dan ANDRAGOGI :D

kelompok 3 :
1. Pangeran John P (08-087)
2.Icfadila Hanisa Lbs (11-022)
3.Haifa Chairunisa (11-050)
4.Atika M Nataya Nst (11-086)

SIMULASI PEDAGOGI

Setting : di kelas, antara guru bahasa inggris dan murid
Pemeran : Icfadila (Guru bahasa inggris) dan Nataya (Murid)
Cerita : Ibu guru menjelaskan tentang pelajaran dan murid mendengarkan

Ic      : Pagi, Thaya. Hari ini kita membahas Present Tense yaa.
Taya : Iya, Bu.
Ic      : Buka halaman 30 ya.
Taya : Iya, Bu.
Ic      : Jadi, present tense itu digunakan untuk menunjukkan kegiatan yang dilakukan sekarang atau menjadi kebiasaan. Mengerti, Taya?
Taya : Mengerti, Bu…..

SIMULASI ANDRAGOGI

Setting : di kampus, tiga mahasiswi saling bertukar pendapat tentang suatu studi kasus
Pemeran : Icfadila, Haifa, Nataya (Mahasiswi)
Cerita : 3 mahasiswi sedang berdiskusi tentang suatu kasus secara santai

Haifa   : Wee, semalam, kan, aku nonton video Nanny di youtube. Jadi ceritanya anaknya itu udah umur 9 tahun, berarti udah sekolah, kan. Cuma dia masih tempertantrum loh. Menurut kalian cemana itu?
Taya    : Iya juga, seharusnya emosi dia udah harus disesuaikan dengan lingkungannya.
Ic         : Aku pernah baca. Katanya, memangn kalau umur sekolah itu anak sudah tahu kalau perilaku marah-marah itu sama kayak anak bayi, tapi asal kalian tau, ternyata itu nggak berlaku dirumah loh.
Taya    : Ah masa?? Apa bisa perilaku mereka berbeda di rumah dan di sekolah ?
Haifa   : Eh tapi mungkin juga, Taya. Kan banyak tuh kejadian anak-anak yang beda di sekolah sama di rumah. Oh ternyata begitu yaa.


Dari kedua simulasi dia tas, dapat ditarik kesimpulan perbedaan di antara pedagogi dan andragogi adalah :
-          Pedagogi menekankan pada tanggung jawab guru atas muridnya secara penuh. Murid hanya sebagai pelajar pasif yang mendengarkan dan memahami apa yang diinstruksikan gurunya. Resiko pedagogi adalah ketika yang disampaikan guru salah dan murid tetap mencernanya secara keseluruhan.
-          Andragogi menekankan pada interaksi antara guru dan murid, dimana murid berperan sebagai sumber ajar dimana guru dan murid sama-sama saling belajar dan mengevaluasi hasil kerja mereka. Selain itu, orientasi andragogi adalah kehidupan. Orang dewasa akan lebih senang jika apa yang mereka pelajari memiliki relevansi langsung dengan kehidupan, seperti model studi kasus.



Kamis, 07 Juni 2012


 A N D R A G O G I


1.    Pengertian teori Andragogi
Andragogi berasal dari bahasa Yunani kuno: "aner", dengan akar kata andr, yang berarti orang dewasa, dan agogus yang berarti membimbing atau membina. andragogi secara harfiah dapat diartikan sebagai ilmu dan seni mengajar orang dewasa. Namun karena orang dewasa sebagai individu yang sudah mandiri dan mampu mengarahkan dirinya sendiri, maka dalam andragogi yang terpenting dalam proses interaksi belajar adalah kegiatan belajar mandiri yang bertumpu kepada warga belajar itu sendiri dan bukan merupakan kegiatan seorang guru mengajarkan sesuatu (Learner Centered Training/Teaching).

2.    Perkembangan Teori Andragogi
Malcolm Knowles dalam publikasinya yang berjudul "The Adult Learner, A Neglected Species" yang diterbitkan pada tahun 1970 mengungkapkan teori belajar yang tepat bagi orang dewasa. Sejak saat itulah istilah "Andragogi" makin diperbincangkan oleh berbagai kalangan khususnya para ahli pendidikan.

Sebelum muncul Andragogi, yang digunakan dalam kegiatan belajar adalah Pedagogy. Konsep ini menempatkan murid/siswa sebagai obyek di dalam pendidikan, mereka mesti menerima pendidikan yang sudah di setup oleh sistem pendidikan, di setup oleh gurunya/pengajarnya. Apa yang dipelajari, materi yang akan diterima, metode panyampaiannya, dan lain-lain, semua tergantung kepada pengajar dan tergantung kepada sistem. Murid sebagai obyek dari pendidikan.

Dalam Andragogy inilah, kita kenal istilah-istilah Enjoy Learning, Workshop, Pelatihan Outbond,dll, dan dari konsep Pendidikan Andragogy inilah kemudian muncul konsep-konsep Liberalisme pendidikan, Liberasionisme pendidikan dan Anarkisme pendidikan. Liberalisme pendidikan bertujuan jangka panjang untuk melestarikan dan memperbaiki tatanan sosial yang ada dengan cara mengajar setiap siswa sebagaimana cara menghadapi  persoalan-persoalan dalam kehidupan sehari-hari secara efektif.

3.       Asumsi-Asumsi Pokok Teori Belajar Andragogi   
Malcolm Knowles (1970) dalam mengembangkan konsep andragogi, mengembangkan empat pokok asumsi sebagai berikut:
a.    Konsep Diri: konsep diri anak-anak masih tergantung sedangkan pada orang dewasa konsep dirinya sudah mandiri. Karena kemandirian inilah orang dewasa membutuhkan memperoleh penghargaan orang lain sebagai manusia yang mampu menentukan dirinya sendiri (Self Determination), mampu mengarahkan dirinya sendiri (Self Direction). Apabila orang dewasa tidak menemukan dan menghadapi situasi dan kondisi yang memungkinkan timbulnya penentuan diri sendiri dalam suatu pelatihan, maka akan menimbulkan penolakan atau reaksi yang kurang menyenangkan.
b. Peranan Pengalaman :  Asumsinya adalah bahwa sesuai dengan perjalanan waktu seorang individu tumbuh dan berkembang menuju ke arah kematangan. Dalam perjalanannya, seorang individu mengalami dan mengumpulkan berbagai pengalaman pahit-getirnya kehidupan, dimana hal ini menjadikan seorang individu sebagai sumber belajar yang demikian kaya, dan pada saat yang bersamaan individu tersebut memberikan dasar yang luas untuk belajar dan memperoleh pengalaman baru. Oleh sebab itu, dalam teknologi pelatihan atau pembelajaran orang dewasa, terjadi penurunan penggunaan teknik transmittal seperti yang dipergunakan dalam pelatihan konvensional dan menjadi lebih mengembangkan teknik yang bertumpu pada pengalaman. Dalam hal ini dikenal dengan "Experiential Learning Cycle" (Proses Belajar Berdasarkan Pengalaman).

c.     Kesiapan Belajar : Asumsinya bahwa setiap individu semakin menjadi matang sesuai dengan perjalanan waktu, maka kesiapan belajar bukan ditentukan oleh kebutuhan atau paksaan akademik ataupun biologisnya, tetapi lebih banyak ditentukan oleh tuntutan perkembangan dan perubahan tugas dan peranan sosialnya. Pada seorang anak belajar karena adanya tuntutan akademik atau biologiknya. Tetapi pada orang dewasa siap belajar sesuatu karena tingkatan perkembangan mereka yang harus menghadapi dalam peranannya sebagai pekerja, orang tua atau pemimpin organisasi.

d.    Orientasi Belajar: Asumsinya yaitu bahwa pada anak orientasi belajarnya seolah-olah sudah ditentukan dan dikondisikan untuk memiliki orientasi yang berpusat pada materi pembelajaran (Subject Matter Centered Orientation). Sedangkan pada orang dewasa mempunyai kecenderungan memiliki orientasi belajar yang berpusat pada pemecahan permasalahan yang dihadapi (Problem Centered Orientation). Hal ini dikarenakan belajar bagi orang dewasa seolah-olah merupakan kebutuhan untuk menghadapi permasalahan yang dihadapi dalam kehidupan keseharian, terutama dalam kaitannya dengan fungsi dan peranan sosial orang dewasa.


Senin, 04 Juni 2012

HASIL SURVEY

Hasil Survey Pendidikan Anak Usia Dini




Berdasarkan hasil survey yang saya lakukan dari tanggal 25 Mei sampai 4 Juni terdapat 59 responden. Responden merupakan mahasiswa fakultas Psikologi USU angkatan 2011 .Adapun deskiriptif dari hasil survey ini.

Sebanyak 91,53 % (54 orang ) setuju dengan pendapat bahwa pendidikan anak usia dini itu penting tetapi ada juga responden sebanyak 8,47 (5 org) yang memilih netral . Saya berpendapat bahwa bermain adalah pelajaran utama di PAUD, sebanyak 86,44% (51 org) yang setuju dengan pendapat tersebut.

Saya juga berpikir bahwa kualitas sekolah itu sangat berpengaruh dengan sistem pendidikannya. Oleh sebab itu, saya berpendapat bahwa sekolah yang baik menjamin mutu pendidikan . Pendapat tersebut memiliki variasi respon , yaitu : 77,97% (47 org) setuju, 16,95% (9 org) Netral , 5,08% (3 org) tidak setuju.

Seperti yang telah dipelajari , PAUD membantu ketiga aspek perkembangan (kognitif, fisisk, psikososial) anak usia dini untuk menjadi lebih baik. Saya membuat pernyataan  bahwa PAUD membantu perkembangan fisik, kognitif, dan psikososial anak. 91,53% (54 org) Setuju dan 8,47% (5 org) memilih netral.

Saya melihat fenomena bahwa ada anak usia dini yang tidak mengikuti pendidikan anak usia dini. Faktor yang melatarbelakangi bervariasi, salah satunya ekonomi keluarga. Padahal dengan megikuti PAUD anak  kan berkembang lebih baik . Terkait dengan hal ini, saya berpendapat bahwa seorang anak pada usia dini harus mengikuti PAUD, 59 org menanggapi hal ini dengan rincian 37,29% Setuju (31 org) ,  54,24 % (31 org)  Netral, dan 8,47% (5 org) tidak setuju.

Kesimpulan yang dapat ditarik dari 59 org mengenai pendidikan anak usia dini yaitu pendidikan anak usia dini itu sangat penting karena PAUD membantu dalam perkembangan fisik, kognitif, dna psikososial anak. Namun, perlu diingat bahwa bermain adalah pelajaran utama . Orang tua juga harus teliti dalam memilih sekolah. Diharapkan sekolah yang baik mampu menjamin sistem pendidikan di sekolah tsb. Namun dari hasil survey, banyak responden berpendapat anak usia dini tidak harus mengikuti PAUD.


Tugas Mini Proyek 2011/2012


Nama Kelompok :

PERAN MOTIVASI DALAM PROSES MENCAPAI PRESTASI

I.PERENCANAAN

Pendahuluan

Setiap pekerjaan yang akan dilakukan seseorang harus mempunyai motivasi untuk mencapainya. Motivasi merupakan hal yang paling mendasari setiap pekerjaan yang akan dilakukan.  Jadi, apakah motivasi itu ?. Motivasi adalah proses yang memberi semangat, arah, dan kegigihan perilaku (Santrock,2004). Artinya , perilaku yang termotivasi adalah perilaku yang penuh energi,terarah, dan bertahan lama.
Setiap orang memilki motivasi yang berbeda dalam mencapai prestasi. Motivasi bekerja sama dengan emosi dalam memainkan peranan penting dalam pencapaian prestasi. Motivasi dalam kehidupan manusia ada 2 yaitu motif primer dan motif psikologis. Motif primer merupakan motivasi untuk mencapai kebutuhan primer (biologis) dan demi kelangsungan hidup, seperti homeostasis, rasa lapar, dan rasa haus. Motif psikologi adalah motif yang berhubungan dengan kebahagiaan individu dan kesejahteraan, tapi tidak untuk kelangsungan hidup seperti motivasi pencapaian prestasi.
Bagi seorang murid memilki motivasi untuk mencapai prestasi sangat penting. Dalam hal ini, prestasi yang dicapai tidak hanya prestasi di dalam kelas tetapi juga prestasi di luar kelas. Motivasi dari seorang murid patut diketahui sehingga guru dapat meningkatkan atau mengarahkan motivasi tersebut. Fenomena saat ini adalah guru dan orang tua tidak mengetahui motivasi seperti apa yang dimiliki seorang murid sehingga ia tidak dapat melakukan usaha yang maksimal untuk mencapai prestasi.


Landasan Teori


A.PERSPEKTIF MOTIVASI

Perspektif psikologi menjelaskan motivasi dengan cara yang berbeda berdasarkan perspektif yang berbeda pula. Ada empat perspektif : behavioral, humanistik, kognitif dan sosial.

1.    Perspektif Behavioral

Perspektif behavioral menekankan imbalan dan hukuman eksternal sebagai kunci dalam menentukan motivasi murid. Insentif adalah peristtiwa atau stimuli positif atau negatif yang dapat memeotivasi perilaku murid. Pendukung penggunaan insentif menekankan bahwa insentif dapat menambah minat atau kesenangan pada pelajaran, dan mengarahkan perhatian pada perilaku yang tepat dan menjauhkan mereka dari perilaku yang tidak tepat.

Insentif yang dipakai guru di kelas antara lain nilai yang baik, yang memberikan indikasitentang kualitas pekerjaan murid, dan tanda bintang atau pujian jika mereka menyelesaikan suatu tugas dengan baik. Insentif lainnya antara lain memberi penghargaan atau pengakuan pada murid – misalnya memamerkan karya mereka, memberi sertifikat prestasi, memberi kehormatan, atau mengumumkan prestasi mereka. Tipe insentif lainnya difokuskan pada pemberian izin kepada murid untuk melakukan sesuatu yang spesial, seperti aktivitas yang mereka inginkan, sebagai ganjaran atas hasil mereka yang baik. Insentif ini berupa jam istirahat lebih, izin memainkan game di komputer, perjalanan, atau bahkan pesta.



2.    Perspektif Humanistik

Perspektif humanistik menekankan pada kapasitas murid untuk mengembangkan kepribadian, kebebasan untuk memilih nasib mereka. Perspektif ini berkaitan erat dengan pandangan Abraham Maslow bahwa kebutuhan dasar tertentu harus dipuaskan dahulu sebelum memuaskan kebutuhan yang lebih tinggi. Menurut Hierarki Kebutuhan Maslow, kebutuhan individual harus dipuaskan dalam urutan sebagai berikut :



•    Fisiologis : lapar, haus, tidur

•    Keamanan (safety) : bertahan hidup, seperti perlindingan dari perang dan kejahatan

•    Cinta dan rasa memiliki : keamanan (seurity), kasih sayang, dan perhatian dari orang lain.

•    Harga diri : menghargai diri sendiri

•    Aktualisasi diri : realisasi potensi diri

Menurut Maslow, misalnya, murid harus memuaskan kebutuhan makan sebelum merka dapat berprestasi. Aktualisasi diri adalah motivasi untuk mengembangkan potensi diri secara penuh sebagai manusia.


3.    Perspektif Kognitif

Menurut perspektif kognitif, pemikiran murid akan memandu motivasi mereka. Minat ini berfokus pada ide-ide motivasi internal murid untuk mencapai sesuatu, atribusi mereka (persepsi tentang sebab-sebab kesuksesan dan kegagalaan, terutama persepsi bahwa usaha adalah faktor penting dalam prestasi), dan keyakinan mereka bahwa mereka dapat mengontrol lingkungan mereka secara efektif.

Jadi, perspektif behavioris memandang motivasi sebagai konsekuensi dari insentif eksternal, sedangkan perspektif kognitif berpendapat bahwa tekanan eksternal seharusnya tidak dilebih-lebihkan. Perspektifkognitif merekomendasikan agar murid diberi lebih banyak kesempatan dan tanggung-jawab untuk mengontrol prestasi mereka sendiri.

Perspektif kognitif tentang motivasi sesuai dengan gagasan R.W. White (1959), yang mengusulkan konsep motivasi kompetensi, yakni ide bahwa orang termotivasi untuk mengahdapi lingkungan mereka secara efektif, menguasai dunia mereka, dan memproses informasi secara efisien.

4.    Perspektif Sosial

Kebutuhan afiliasi atau keterhubungan adalah motif untuk berhubungan dengan orang lain secara aman, yaitu kebuthuhan sosial, teman, dicintai dan mencintai serta diterima dalam pergaulan kelompok karyawan dan lingkungannya. Kebutuhan afiliasi murid tercermin dalam motivasi mereka untuk menghabiskan waktu bersama teman, kawan dekat,keterikatan mereka dengan orangtua, dan keinginan untuk menjalin hubungan positif dengan guru.


B.MOTIVASI  INTRINSIK DAN EKSTRINSIK

    A.Motivasi Intrinsik adalah motivasi internal untuk melakukan sesuatu demi sesuatu itu sendiri (tujuan itu sendiri). Motivasi Intrinsik didasarkan pada faktor-faktor internal, seperti kebutuhan organismik (otonomi, kompetensi, dan keterhubungan), Seperti juga rasa ingin tahu, tantangan, dan usaha. Ketika kita termotivasi secara intrinsic, kita terlibat dalam perilaku karena kita menikmatinya.

    B.Motivasi Ekstrinsik adalah  melakukan sesuatu untuk mendapatkan sesuatu yang lain (cara untuk mencapai tujuan). Motivasi ekstrinsik sering dipengaruhi oleh insentif internal seperti imbalan dan hukuman. Ketika kita termotivasi secara ekstrinsik, maka kita terlibat dalam perilaku tertentu karena ganjaran eksternal.

Perspektif Behavioral  menekankan arti penting dari motivasi ekstrinsik dalam prestasi. Sedangkan Pendekatan Kognitif  dan Humanistic lebih menekankan pada arti penting dari motivasi intrinsic dalam prestasi.


C.TEORI ACHIEVEMENT MOTIVATION


Achievement motivation adalah kebutuhan psikologis bagi manusia untuk sukses di sekolah, pekerjaan, atau di bidang lain (Lahey,2007). Andrew Elliot dan Marcy Church (1997) dari University of Rochester membedakan 3 elemen kunci dalam motivasi ini, yaitu :

1. Mastery goals. Seseorang dengan mastery goals yang tinggi akan termotivasi secara intrinsik untuk belajar dan mementingkan suatu informasi atau ilmu yang baru. Dia akan sangat menikmati setiap tantangan yang membuatnya mendapatkan informasi atau ilmu yang baru.

2. Performance-approach goals. Seseorang dengan performance-approacg goal yang tinggi termotivasi untuk bekerja keras dan mendapatkan hasil yang lebih baik daripada orang lain untuk mendapatkan ‘respek’ dari orang lain.

3. Performance-avoidance goals. Seseorang dengan performance-avoidance goals yang a tinggi termotivasi untuk bekerja keras untuk menghindari hasil yang buruk dan agar tidak terlihat bodoh di depan orang lain.


Tujuan


• Untuk mengetahui peran motivasi dalam proses mewujudkan prestasi bagi siswa

• Untuk mengetahui motivasi apa yang dimiliki oleh siswa


Alat dan Bahan

•    Laptop

•    Kamera

•    Kuesioner

•    Reward

•    Alat tulis


Analisis Data

Data didapat dengan memberikan kuesioner terhadap subjek dan terdiri dari 7 pertanyaan. Data ini diperoleh berdasarkan jumlah siswa yang paling banyak memilih jawaban dari setiap soal tersebut dan kemudian ditarik kesimpulan.


Objek atau Subjek

Lokasi penelitian di SMA Al-Azhar Medan. Populasi dari penelitian adalah seluruh siswa kelas XI Unggulan SMA Al-Azhar Medan. Sampel yang diambil satu kelas dari kelas XI






Keterangan :

Pemilihan topik    : 28 Maret 2012

Membuat konsep penelitian    : 28 Maret 2012

Meminta surat izin dari fakultas psikologi    : 20 April 2012

Izin ke sekolah    : 24 April 2012

Persiapan penelitian    : 24 April 2012

Mengantar surat ke sekolah    : 1 Mei 2012

Penelitian    : 3 Mei 2012

Membuat hasil penelitian    : 3 Mei 2012



Kalkulasi Biaya

Barang yang dibeli
Harga
Fotocopy kuesioner (Rangkap 35)
Rp    4.200
Beli reward (2 kotak @Rp 10.500)
Rp   21.000
Beli kue
Rp   71.000
Poster
Rp   50.000
Jumlah
Biaya per orang
Rp 146.200
Rp   49.000



II. PELAKSANAAN

Penelitian dilaksanakan pada tanggal 03 Mei 2012. Kelompok berangkat dari rumah masing-masing dan berkumpul di Fakultas Psikologi USU pada jam 10.00 WIB. Setelah semuanya berkumpul, kelompok langsung berangkat. Sebelum kelompok menuju SMA Al-Azhar Medan sebagai tempat penelitian, kelompok pergi ke toko kue untuk membeli kue yang akan kelompok berikan kepada guru-guru di Al-Azhar. Pukul 11.00 WIB kelompok sampai di SMA Al-Azhar Medan. Setibanya ditempat, kelompok mempersiapkan alat-alat yang dibawa seperti kuesioner, reward dan kamera. Lalu kelompok menuju kantor guru untuk mengkonfirmasi kedatangan kelompok sekaligus memberikan kue kepada guru-guru. Kelompok diminta menunggu oleh PKS I (Pembantu Kepala sekolah) karena pada saat itu beliau sedang mempersiapkan kelas yang akan kelompok gunakan untuk melakukan penelitian.

Pukul 11.20 WIB, kelompok diperbolehkan memulai penelitian di kelas XI Unggulan B sebagai sampelnya. Awalnya, PKS I  memberikan sedikit pengarahan mengenai apa yang akan kelompok lakukan. Selanjutnya, kelompok diberi wewenang untuk menggunakan kelas tersebut. Pertama-tama, kelompok memperkenalkan diri terlebih dahulu, kemudian menjelaskan maksud dan tujuan dari penelitian. Setelah itu, kelompok membagikan kuesioner kepada masing-masing siswa dan mempersilahkan mereka mengisi kuesioner. Ketika siswa sedang mengerjakan kuesioner, salah seorang anggota kelompok mengambil foto untuk dokumentasi. Kurang lebih 15 menit kemudian, para siswa telah selesai mengisi kuesioner lalu kelompok membagikan reward kepada masing-masing siswa. Kemudian kelompok pun mengucapkan terima kasih kepada para siswa karena telah bersedia mengisi kuesioner.

Setelah penelitian selesai, kelompok kembali ke kantor guru untuk menemui PKS I dan guru untuk mengucapkan terima kasih. Tetapi, karena PKS I sedang pergi, maka kelompok menemui PKS III lalu berfoto dengan guru dan PKS III tersebut. Selesai berfoto, kemudian kelompok berpamitan dan kembali lagi ke Fakultas Psikologi USU.


III.PELAPORAN DAN EVALUASI

LAPORAN

Data diperoleh melalui 23 sampel siswa :

•    Menurut siswa-siswi SMA Al-azhar Medan, sebanyak 21 orang setuju bahwa pengertian motivasi merupakan proses yang memberi semangat dan arah, sedangkan sebanyak 2 orang menganggap bahwa motivasi merupakan proses yang memberi kesempatan untuk sukses.

•    Sama halnya dengan pengertian motivasi tersebut, perspektif tentang motivasi mereka juga berbeda-beda. Dari hasil yang kami peroleh sekitar 74% siswa-siswi tersebut memiliki perspektif bahwa prestasi merupakan kunci sukses. Dimana mereka lebih cenderung ke perspektif kognitif yaitu pemikiran murid akan memandu motivasi mereka.

•    Hampir semua dari mereka yaitu sekitar 91,3% setuju bahwa peran motivasi itu sangat penting dalam mewujudkan prestasi dan tidak ada yang menganggap bahwa motivasi tidak penting dalam mewujudkan prestasi.

•    Ada banyak hal yang dapat menjadi motivasi siswa dalam mewujudkan prestasi, diantaranya juara/piala, pujian dari orang lain dan persepsi bahwa prestasi merupakan tantangan yang harus dihadapi. Dari data yang kami peroleh, sebesar 56,5% mereka mengaku yang menjadi motivasi mereka adalah persepsi bahwa prestasi merupakan tantangan yang harus dihadapi, sebesar 26% karena pujian dari orang lain, dan sebesar 17,4% karena juara/piala. Jadi mereka lebih termotivasi dari motivasi instrinsik dimana motivasi yang didasarkan pada faktor-faktor internal seperti kebutuhan organismik (kompetensi dan otonom) seperti juga rasa ingin tahu, tantangan dan usaha

•    Di sisi lain, mereka juga memberikan respon baik positif maupun negatif terhadap motivasi berupa imbalan. Separuh dari mereka menganggap motivasi berupa imbalan itu berdampak positif dengan berbagai alasan, seperti karena dengan adanya imbalan mereka akan terus berusaha dan semangat untuk mencapai prestasi, karena imbalan itu akan menjadi pemicu mereka untuk berprsetasi, karena imbalan akan meningkatkan motivasi mereka dan karena dengan adanya imbalan mereka lebih merasa prestasi mereka dihargai orang lain sehingga itu akan mejadi penambah semangat untuk mencapai dan meningkatkan prestasi. Sedangkan separuh dari mereka menganggap motivasi berupa imbalan itu berdampak negatif karena dengan adanya imbalan yang cukup mereka menjadi puas dan tidak mau berusaha lagi untuk berprstasi, imbalan terebut juga dapat menjadikan mereka menjadi ketergantungan akan imbalan contohnya apabila tidak diberi imbalan prestasinya akan menurun atau menjadi tidak termotivasi lagi, bahkan imbalan tersebut bisa menjadikan merasa terpaksa dalam mencapai prestasi.

•    Namun, mereka memiliki pendapat yang berbeda dalam menanggapi orang lain yang mendapatkan prestasi yang lebih baik dari mereka yaitu sebanyak 19 orang mereka merasa tersaingi sehingga mereka termotivasi untuk meraih prestasi yang lebih baik, dan hanya 4 orang berpendapat bahwa orang tersebut memang pantas mendapatkannya karena dia lebih baik dari mereka. Sama juga halnya dengan motivasi berprestasi mereka, sekitar 60,9% mereka termotivasi untuk berprestasi karena meraka ingin mempelajari informasi yang menarik dan penting sesuai dengan teori Mastery Goals, sebesar 21,7% agar mendapatkan nilai yang lebih baik dari orang lain sesuai teori Performance-Approach Goals serta sebesar 17,4% karena untuk menghindari nilai yang jelek dan tidak terlihat tidak cerdas sesuai dengan teori Performance-Avoidance Goals.




EVALUASI


Dalam menyelesaikan tugas proyek mini ini, kami tidak menemukan kendala yang begitu berarti. Namun ada beberapa hal yang membuat pengerjaan tugas proyek mini ini sedikit lama seperti membuat poster yang kami akui kami sangat sangat tidak ahlinya dan waktu yang banyak kami buang karena banyaknya deadline tugas-tugas lainnya serta UTS yang harus kami fokuskan terlebih dahulu.
Meskipun ada beberapa kendala yang kami hadapi, secara keseluruhan kami merasa puas dengan hasil kerja kami ini. Bagian demi bagian kami kerjakan secara bertahap dengan bersama-sama sehingga tugas ini tidak terasa begitu berat. Penelitian yang kami lakukan juga berjalan dengan lancar walaupun mungkin masih ada kekurangan kami dalam bagian-bagian tugas ini.


TESTIMONI


Testimoni Kelompok :
Menurut kelompok, proyek mini adalah tugas yang menyenangkan. Selain memberikan pengalaman baru juga memberikan wawasan yang berguna bagi kami. Melalui proyek mini ini, kami mempersatukan ide-ide kami sehingga proyek mini ini dapat berjalan dengan baik. Proyek mini ini juga membuat kami lebih akrab . Semoga  hasil dari proyek mini ini memberikan manfaat dan dapat memenuhi tugas dengan baik.

Testimoni Anggota :.
1.Nurfazrina (11-036)
Proyek mini ini memberikan saya wawasan tentang bagaimana melakukan observasi dan proyek mini ini sangat berguna untuk kedepannya. Walaupun ini bukan penelitian yang sebenarnya tapi setidaknya saya mendapatkan gambaran mengenai penelitian. Hal yang paling membuat nyaman dalam mengerjakannya adalah teman satu kelompoknya yang sehati, sehingga tidak ada kendala yang besar dalam proses pengerjaannya.
2. Tia Nahara Hendrati (11-074)
Pelaksanaan proyek mini merupakan pengalaman baru untuk saya, dimana pertama kalinya saya melakukan observasi. Pelaksanaannya lancar, tempat observasinya juga tidak mempersulit kami. Selain itu, yang paling penting adalah kerjasama tim yang baik membuat pengerjaan proyek mini ini lebih mudah.
3. Atika M Nataya Nst (11-086)
Menurut saya, proyek mini memberikan pengalaman baru bagi saya yang tentunya pengalaman yang berguna buat masa depan . Walaupun sedikit bingung bagaimana mengerjakannya, namun setelah melihat blog kakak kelas dan berdiskusi dengan teman kelompok, saya menjadi mengerti untuk mengerjakannya .


LAMPIRAN :
UNIVERSITAS SUMATERA UTARA
FAKULTAS PSIKOLOGI
Jl. Dr. Mansyur No. 7 Medan 20155 Telp. +62-61-8220122 Fax. +62-618220122
Sumatera Utara  - Indonesia

KUESIONER
Petunjuk :
1)   Pilihlah jawaban yang paling sesuai dengan diri Anda
2)   Jawaban di kuesioner ini tidak bernilai benar atau salah
Inisial :
Jenis Kelamin :


1. Menurut Anda, apakah motivasi itu?
a. Proses yang memberi semangat dan arah
b. Proses yang memberi kesempatan untuk sukses
2. Menurut Anda, apa yang menjadi motivasi Anda untuk berprestasi?
a. Pujian dan hadiah            
b. Sebagai harga diri
c. Persepsi bahwa prestasi merupakan kunci sukses
d. Agar diterima dalam pergaulan
3. Menurut Anda, seberapa penting motivasi memepengaruhi prestasi Anda?
a. Sangat penting                 
b. Penting
c. Tidak penting
4. Menurut Anda, apakah motivasi yang berupa imbalan lebih cenderung memberikan dampak...
a. Positif, alasannya....
b. Negatif, alasannya....
5. Hal apa yang membuat anda termotivasi untuk mencapai prestasi?
a. Juara/piala
b. Pujian dari orang lain
c. Tantangan yang harus dihadapi
6. Jika orang lain mendapatkan prestasi yang lebih baik dari Anda, apa tanggapan Anda?
a. Dia memang pantas mendapatkannya karena dia lebih baik dari Anda
b. Merasa tersaingi sehingga Anda termotivasi meraih prestasi yang lebih baik
7. Apa yang menjadi motivasi Anda untuk berprestasi?
a. Agar dapat mempelajari informasi yang menarik dan penting
b. Agar mendapatkan nilai yang lebih baik dari orang lain untuk mendapat perhatian
c. Untuk menghindari nilai yang jelek dan tidak terlihat tidak cerdas